Mobilyaelemani – Sepak bola Spanyol selalu menyuguhkan intensitas tinggi, tidak hanya di kasta tertinggi tetapi juga dalam persaingan sengit tim-tim bersejarah yang berusaha mempertahankan martabatnya. Pada awal tahun 2026 ini, fokus tertuju pada Stadion Mendizorrotza, markas kebanggaan Deportivo Alaves. Ribuan pendukung setia El Glorioso datang dengan harapan besar melihat tim kesayangan mereka meraih poin penuh. Namun, kenyataan pahit harus diterima ketika tim asuhan Eduardo Coudet, Deportivo Alaves dipaksa imbang saat menjamu Real Oviedo di kandang sendiri.
Hasil ini menjadi kejutan mengingat performa Alaves yang sedang menanjak di bawah asuhan pelatih asal Argentina, Eduardo “Chacho” Coudet. Dikenal dengan gaya main menyerang yang agresif dan menuntut fisik prima, Coudet diharapkan mampu memberikan kemenangan mudah. Namun, Real Oviedo datang dengan rencana matang untuk merusak pesta tuan rumah, memaksa hasil bagi poin yang terasa seperti kekalahan bagi publik Vitoria-Gasteiz.
Filosofi Eduardo Coudet dan Kebuntuan Taktis

Sejak ditunjuk sebagai pelatih, Eduardo Coudet membawa identitas baru bagi Alaves. Ia menerapkan formasi yang fleksibel namun tetap mengedepankan tekanan tinggi (high pressing) untuk merebut bola sedini mungkin di area lawan. Namun, dalam pertandingan kali ini, filosofi tersebut menemui tembok tebal. Salah satu alasan utama mengapa tim asuhan Eduardo Coudet, Deportivo Alaves dipaksa imbang saat menjamu Real Oviedo di kandang sendiri adalah ketidakmampuan pemain tengah mereka dalam membongkar blok rendah yang diterapkan lawan.
Real Oviedo secara cerdas menumpuk pemain di lini tengah, menutup ruang gerak para gelandang kreatif Alaves. Coudet yang biasanya mengandalkan transisi cepat dari sayap, justru mendapati para pemainnya sering melakukan kesalahan umpan akibat ruang yang sangat sempit. Frustrasi mulai terlihat di wajah Coudet ketika berkali-kali instruksi dari pinggir lapangan tidak mampu diterjemahkan menjadi peluang bersih oleh anak asuhnya.
Dominasi Babak Pertama yang Sia-sia
Pada paruh pertama pertandingan, Alaves sebenarnya tampil sangat dominan. Statistik menunjukkan penguasaan bola tuan rumah mencapai angka 65%. Serangan demi serangan dibangun dari lini belakang melalui koordinasi bek tengah yang maju membantu penyerangan. Namun, dominasi ini terkesan “steril” karena minimnya tembakan tepat sasaran.
Beberapa peluang emas yang didapat oleh barisan depan Alaves berhasil dimentahkan oleh kegemilangan kiper Real Oviedo. Kurangnya ketenangan di depan gawang menjadi faktor krusial. Ketegangan di tribun penonton mulai terasa ketika babak pertama berakhir dengan skor kacamata. Inilah awal mula kekhawatiran bahwa tim asuhan Eduardo Coudet, Deportivo Alaves dipaksa imbang saat menjamu Real Oviedo di kandang sendiri akan menjadi kenyataan pahit bagi para penggemar.
Real Oviedo, Strategi Bertahan yang Heroik
Real Oviedo datang bukan untuk bermain cantik, melainkan untuk mencuri poin. Pelatih tim tamu nampaknya telah mempelajari gaya bermain Coudet dengan sangat detail. Mereka membiarkan Alaves menguasai bola di area pertahanan mereka sendiri, namun begitu bola memasuki sepertiga akhir, pemain Oviedo langsung melakukan penjagaan ganda (double cover) terhadap pemain kunci Alaves.
Kedisiplinan lini belakang Oviedo patut diacungi jempol. Mereka tidak terpancing keluar dari posisi, sehingga menciptakan situasi di mana Alaves hanya bisa memutar bola ke samping tanpa bisa menembus jantung pertahanan. Keberhasilan strategi ini semakin mempertegas mengapa tim asuhan Eduardo Coudet, Deportivo Alaves dipaksa imbang saat menjamu Real Oviedo di kandang sendiri. Bagi Oviedo, hasil imbang di Mendizorrotza adalah sebuah kemenangan moral yang besar.
Babak Kedua, Drama dan Perubahan Formasi Coudet

Memasuki babak kedua, Eduardo Coudet mencoba melakukan perjudian dengan memasukkan dua penyerang segar dan mengubah formasi menjadi lebih menyerang. Tekanan yang diberikan Alaves semakin menjadi-jadi. Gemuruh dukungan suporter membuat atmosfir stadion semakin panas. Namun, serangan yang terburu-buru justru membuat pertahanan Alaves menjadi rentan terhadap serangan balik.
Ada satu momen di menit ke-75 ketika Real Oviedo hampir saja mencetak gol melalui skema serangan balik cepat. Beruntung bagi Alaves, bola masih membentur tiang gawang. Peringatan ini membuat Alaves sedikit lebih berhati-hati, namun di sisi lain, kreativitas mereka semakin tumpul. Sisa waktu 15 menit terakhir dipenuhi dengan upaya-upaya spekulatif dari luar kotak penalti yang tidak membuahkan hasil. Skor akhir tetap bertahan 0-0, dan fakta bahwa tim asuhan Eduardo Coudet, Deportivo Alaves dipaksa imbang saat menjamu Real Oviedo di kandang sendiri pun tak terelakkan.
Evaluasi Teknis, Mengapa El Glorioso Gagal Menang?
Menganalisis hasil imbang ini memerlukan tinjauan mendalam pada beberapa aspek teknis permainan:
-
Ketidakmampuan Mengatasi Blok Rendah: Alaves terlalu sering memaksakan serangan melalui jalur tengah yang sangat padat. Mereka kekurangan variasi serangan dari sisi sayap yang bisa melebar pertahanan lawan.
-
Kelelahan Fisik: Gaya main Coudet yang menuntut pemain untuk terus berlari sepanjang laga nampaknya mulai memakan korban. Di 20 menit terakhir, intensitas tekanan Alaves menurun drastis, memberikan napas bagi pemain Oviedo untuk mengatur pertahanan.
-
Ketergantungan pada Satu Sosok Penyerang: Ketika penyerang utama Alaves dimatikan, pemain lain tidak mampu muncul sebagai pemecah kebuntuan. Hal ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi manajemen tim.
Ketiga faktor di atas menjadi alasan logis mengapa tim asuhan Eduardo Coudet, Deportivo Alaves dipaksa imbang saat menjamu Real Oviedo di kandang sendiri.
Konsekuensi Terhadap Posisi di Klasemen
Hasil imbang ini berdampak langsung pada ambisi Alaves untuk merangkak naik ke papan atas klasemen. Kehilangan dua poin di kandang adalah kerugian besar dalam persaingan liga yang sangat ketat di tahun 2026 ini. Rival-rival terdekat mereka berhasil meraih kemenangan, yang berarti selisih poin kini semakin melebar.
Bagi Real Oviedo, tambahan satu poin ini sangat berharga untuk menjauhkan diri dari zona degradasi. Mereka membuktikan bahwa dengan organisasi pertahanan yang baik, tim manapun bisa diredam, termasuk tim asuhan pelatih sekaliber Eduardo Coudet. Kini, tekanan berpindah ke pundak Coudet untuk membuktikan bahwa hasil imbang ini hanyalah kecelakaan kecil dalam perjalanan panjang musim ini.
Respon Eduardo Coudet Setelah Laga

Dalam sesi konferensi pers pasca-pertandingan, Eduardo Coudet tidak bisa menyembunyikan rasa frustrasinya. Wajahnya yang tegang mencerminkan kekecewaan mendalam terhadap hasil akhir. “Kami menguasai segalanya kecuali mencetak gol. Kami perlu lebih tajam dan lebih sabar dalam membongkar pertahanan lawan yang bermain sangat dalam,” ujar pelatih asal Argentina tersebut.
Meskipun tim asuhan Eduardo Coudet, Deportivo Alaves dipaksa imbang saat menjamu Real Oviedo di kandang sendiri, Coudet tetap memberikan apresiasi kepada para pemainnya yang telah bekerja keras hingga menit akhir. Ia menegaskan bahwa evaluasi akan segera dilakukan untuk memperbaiki efektivitas serangan timnya di pertandingan-pertandingan mendatang.
Harapan Suporter dan Langkah Kedepan
Suporter Alaves meninggalkan stadion dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi mereka bangga dengan dominasi tim, namun di sisi lain mereka kecewa dengan kegagalan meraih kemenangan. Kritik mulai muncul mengenai kebijakan rotasi pemain yang dilakukan Coudet di tengah jadwal yang padat.
Langkah selanjutnya bagi Alaves adalah mempersiapkan diri untuk laga tandang yang tak kalah berat. Coudet harus menemukan cara untuk menjaga moral tim agar tidak jatuh setelah kegagalan ini. Pembenahan taktik dalam menghadapi tim-tim yang bermain defensif harus menjadi prioritas utama dalam sesi latihan di Vitoria-Gasteiz minggu ini.
Pelajaran Berharga bagi Alaves
Sepak bola seringkali memberikan pelajaran melalui hasil-hasil yang tidak diinginkan. Hasil di mana tim asuhan Eduardo Coudet, Deportivo Alaves dipaksa imbang saat menjamu Real Oviedo di kandang sendiri adalah pengingat bahwa dominasi tanpa hasil akhir hanyalah statistik kosong.
Kecerdikan taktis, ketenangan di depan gawang, dan variasi serangan adalah elemen yang hilang dari Alaves dalam laga ini. Jika ingin tetap bersaing di level tertinggi, Eduardo Coudet harus segera menemukan solusi atas kebuntuan ini. Musim 2026 masih panjang, namun setiap poin yang hilang di kandang akan sangat terasa di akhir musim nanti.
